Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Menggapai Lailatul Qadar

No comments:
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

MENGGAPAI LAILATUL QADAR

Oleh: Rofi’udin, S.Th.I, M.Pd.I

 


اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، وَبِتَوْفِيْقِهِ تَتَحَقَّقُ الْمَقَاصِدُ وَالْغَايَاتُ، أَشْهَدُ أَنْ لَاۤ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعْيْنَ.

 

Dalam kesempatan yang baik ini, marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah Swt. atas berbagai nikmat-Nya kepada kita. Shalawat dan salam kita haturkan ke pangkuan junjungan kita, Nabi Muhammad saw. Sebagai umatnya, kita tentu selalu mengharapkan syafaatnya min yaumina hadza ila yaumil qiyamah, sejak saat ini hingga hari kiamat nanti.

Imam Al-Ghazali menceritakan suatu kisah dalam kitabnya, Mukasyafatul Qulub. Suatu ketika, Rasulullah saw. bercerita kepada para sahabat tentang salah seorang nabi dari kalangan Bani Israil. Namanya Syam’un al-Ghazi. Diceritakan bahwa ia berjuang seorang diri menentang bangsa Israil yang menentang tauhid. 

Singkat cerita, Syam’un sempat dijebak oleh istrinya yang berkhianat, hingga akhirnya bisa ditangkap dan disiksa. Syam’un berdoa kepada Allah agar mengembalikan kekuatannya. Doanya dikabulkan Allah dan kekuatannya kembali pulih. Akhirnya istana raja berhasil ia hancurkan. Ia pun bersyukur kepada Allah dengan bersumpah akan menghabiskan waktunya untuk jihad fi sabilillah selama seribu bulan. 

Para sahabat yang mendengar cerita tersebut merasa takjub sekaligus cemburu. Umur mereka belum tentu mencapai 83 tahun dan kecil peluang mereka untuk menyamai pahala Syam’un. Malaikat Jibril as. kemudian turun kepada Nabi saw. dengan membawa surat al-Qadar. Isinya, pada bulan Ramadan, ada sebuah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. 

Itulah Lailatul Qadar, yang secara eksplisit diterangkan dalam al-Qur’an:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ، لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (Qs. al-Qadar: 1-3)

Prof. Quraish Shihab menulis, Lailatul Qadar bisa bermakna ”malam kemuliaan”, lantaran turunnya al-Qur’an pada malam itu. Ia bisa bermakna ”malam pengaturan”, karena ketika itu Allah mengatur strategi nabi dalam mengajak umat pada kebenaran. Ia juga bisa bermakna ”malam ketetapan”, lantaran malam itu terjadi ketetapan bagi perjalanan hidup makhuk.

Kenapa disebut malam ketetapan? Sebab sepanjang Ramadan kita telah berjuang mengendalikan hawa nafsu. Di siang hari, kita berlapar-lapar sepanjang hari karena Allah. Di malam hari, kita bangun untuk shalat tarawih juga karena Allah. Hal ini kita lakukan sejak tanggal 1 Ramadan. Dan ketika menjelang tiba di akhir Ramadan, tentu kebiasaan baik itu akan membawa dampak positif. Malam ketetapan itulah yang akan menjadi titik balik kita menjadi manusia yang lebih baik. 

Dampak positif dari penempaan diri selama Ramadan dapat kita rasakan bersama. Kita menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih pemaaf, dan lebih penyayang. Dengan menyadari dosa di masa lalu, kita juga bertekad bertaubat dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kita siap meminta maaf dan memaafkan sesama. Suasana persaudaraan seperti inilah yang kita rasakan selama bulan Ramadan.

Itulah barangkali kenapa Ramadan dijuluki bulan rahmat dan penuh ampunan. Kita bisa merasakan lebih dekat satu sama lain. Kita lebih menyayangi dibanding sebelumnya. Tidak ada lagi sumpah serapah atau kata-kata menyakitkan yang biasanya gampang meluncur dari mulut-mulut kita. Di bulan Ramadan ini, kita memiliki perasaan yang sama. Kita sama-sama ingin introspeksi diri, memperbaiki diri, dan berusaha menjadi lebih baik.

Proses menuju kebaikan tersebut ditentukan hasilnya di akhir proses. Dengan demikian, momentum Lailatul Qadar yang terjadi di akhir Ramadan merupakan manisfestasi kesuksesan kita selama Ramadan. Lailatul Qadar menjadi momentum titik balik kita menjadi manusia suci tanpa dosa. Rasulullah saw bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa bangun di malam lailatul qadar dengan dasar iman dan mengharap ridha Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun Alaih)

Apabila kita dapat memanfaatkan momentum Lailatul Qadar dengan sebaik-baiknya, maka berarti kita seperti menambah umur lebih dari 83 tahun. Apabila tiap tahun kita dapat menggapai Lailatul Qadar, tak terbayang berapa hakikat umur kita untuk kebaikan. Boleh jadi hanya puluhan tahun, namun hakikatnya ratusan tahun. Itulah umur yang berkah.

Ramadan adalah bulan suci yang sudah semestinya menjadikan kita menjadi suci. Kualitas dan kuantitas ibadah kita kepada Allah lebih meningkat. Tutur kata dan sikap kita juga menjadi lebih baik. Jangan sampai sindiran Gus Mus dalam sajaknya ini mengarah kepada kita: ”Ramadan bulan suci katamu. Kau menirukan ucapan Nabi, atau kau telah merasakan sendiri kesuciannya melalui kesucianmu.” Wallahu A’lam.

 

وَاللهُ الْمُوَفِّقُ اِلَى أَقْوَمِ الطَّرِيْقِ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

Tulisan ini dimuat dalam buku “30 Naskah Kultum untuk Jamaah Masjid Perumahan dan Perkantoran” yang diterbitkan oleh Subdit Kepustakaan Islam Direktorat Urais Binsyar Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama R.I. (2023)

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Masjid Bani Solan Magetan: Surganya Musafir

No comments:
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

MASJID BANI SOLAN MAGETAN: SURGANYA MUSAFIR

Oleh: Rofi’udin, S.Th.I, M.Pd.I

 

Anda seorang musafir atau pelancong dan butuh masjid yang nyaman untuk beribadah dan beristirahat sejenak? Masjid Bani Solan Magetan tempatnya. Masjid terbaik kedua kategori “Masjid Bersih dan Sehat” se-Jawa Timur tahun 2022 ini menawarkan beragam fasilitas masjid bintang lima. Letaknya yang berada di jalan provinsi menjadikan masjid ini teramat mudah dijangkau. Didukung arsitekturnya yang instagramable, menambah daya tarik para musafir dan pelancong untuk singgah.

Bila Anda dari arah Madiun menuju Magetan, tepat setelah traffic light Sukomoro, liriklah sebelah kanan. Anda akan melihat menara tinggi menjulang dengan lafal “Allah” di atasnya. Itulah Masjid Bani Solan yang fenomenal di Magetan. Masjid yang diresmikan pada 27 Maret 2022 ini menjadi tempat transit favorit bagi para pelancong, utamanya setelah berwisata di Telaga Sarangan, Mojosemi Forest Park, dan tempat wisata lainnya di Magetan. Bus dan mobil dari luar kota tampak berderet rapi seperti parkir di tempat wisata, padahal sedang transit di masjid!

Desain masjid sepintas tidak mirip bangunan masjid pada umumnya. Bila diperhatikan lebih saksama, bangunan masjid ini mirip topi. Bentuknya oval dan atapnya menutup seperti topi. Dirancang oleh Angga Ramadhan, arsitek muda asal Surabaya, pembangunan masjid di atas tanah 2.560 meter persegi dan luas bangunan 560 meter persegi yang menelan dana 7 miliar rupiah ini mengusung gaya millenial style, dikolaborasikan dengan gaya Timur Tengah, serta dikombinasi Eropa, modern minimalis, dengan warna khas cokelat.


Masjid terdiri atas tiga bangunan yang terpisah. Ada bangunan masjid dengan daya tampung sekitar 500 jamaah, area perkantoran yang disertai berbagai fasilitas pendukung yang ciamik, juga bangunan khusus sanitasi untuk tempat wudhu, kamar mandi, dan toilet. Ada juga area playground, parkir dan area publik lainnya.

Untuk menuju masjid, kita akan melewati bangunan sanitasi untuk membersihkan diri terlebih dulu. Material bangunan berupa batu bata ekspos yang disusun secara estetik. Lantai terbuat dari ubin yang kesat dan tidak licin. Bagian atas terdapat ventilasi yang melingkari seluruh bangunan ditambah cukup banyak lubang udara pada dinding. Hal ini dimaksudkan agar ruangan selalu dalam keadaan terang alami, kering, dan tidak pengap.

Bangunan ini dibagi menjadi dua: sebelah kiri untuk pria, dan sebelah kanan untuk wanita. Area tempat wudhu dipisah dari area kamar mandi, toilet, dan urinoir. Kita bisa memilih toilet duduk atau jongkok, kamar mandi dengan shower atau bak mandi, lengkap dengan sabunnya. Airnya juga bersih dan melimpah. Mengguyur tubuh dengan air yang bersih dan melimpah membuat tubuh kita yang letih menjadi kembali segar. Yang istimewa, area ini selalu dijaga kebersihannya oleh petugas kebersihan dengan SOP serta bahan dan alat pembersih standar perusahaan penyedia cleaning service. Mirip toilet bandara kali ya, hehehe…

Dari bangunan sanitasi, kita bisa segera menuju ke bangunan utama masjid. Kita akan tercengang karena bangunan ini dikelilingi kolam ikan hias yang sebagian ditutup oleh kaca tebal. Bangunan utama sendiri berada di sisi yang agak tersembunyi dari luar. Hal ini untuk meminimalisir bisingnya suara di jalan raya. Maklum, masjid ini memang berada tepat di tepian jalan penghubung Madiun-Magetan yang cukup ramai.

Membuka pintu masjid, kita langsung diterpa ademnya angin dari dalam. Beberapa pendingin udara memang dipasang di berbagai sisi. Bangunan masjid  yang berbentuk oval dan penuh kaca memungkinkan pencahayaan yang melimpah dari berbagai sisi. Beberapa lemari mukena, sarung, hingga tempat al-Qur’an didesain menyatu dengan dinding sehingga memberi kesan lapang. Mukena dan sarung ini secara rutin tiga hari sekali dicuci oleh petugas. Bila kita perlu menitipkan alas kaki atau barang lainnya, ada petugas yang siap menyimpan barang kita.

Tidak hanya itu, pemasangan speaker premium dan penunjuk waktu shalat digital mempertegas masjid ini sebagai masjid modern. Terdapat ruangan khusus audio yang disetting secara khusus pula. Suara yang dihasilkan menyebar merata ke seluruh bagian masjid, bahkan hingga ke tempat parkir. Jauh maupun dekat, suara yang keluar tetap terdengar stabil.


Nyaman, kesan itu yang muncul saat berada di dalam masjid. Interior masjid selalu memanjakan jamaah untuk berlama-lama di masjid. Apalagi selesai beribadah, kita bisa istirahat di teras masjid sambil menikmati kopi atau teh yang disediakan gratis. Ada dua dispenser, satu untuk jamaah pria, satu lagi untuk wanita, lengkap dengan kopi saset, teh celup, dan gula. Kita bisa menyeduhnya sembari menikmati ikan hias yang hilir mudik di kolam melingkar, serta mengawasi anak-anak yang asyik bermain prosotan atau ayunan di playground.  Pepohonan yang rindang ditunjang taman dengan koleksi bunga aneka warna makin memanjakan mata kita untuk rehat lebih lama di masjid ini.

Tidak cukup itu, takmir masjid bahkan menyediakan fasilitas wifi gratis untuk para musafir yang transit. “Jangan khawatir, wifi di masjid ini tanpa password, semua bisa memanfaatkan untuk hal-hal yang positif. Tapi jangan di waktu pelaksanaan shalat ya,” kata Abdullah, manajer masjid.

Kita akan makin dimanjakan bila kebetulan mampir di masjid ini saat shalat Jum’at. Sehabis shalat, takmir masjid menyediakan makan siang gratis dengan menu penuh gizi. Hal ini sesuai kebijakan yayasan agar menu ”Jum’at Berkah” berupa empat sehat meski tanpa lima sempurna. Tidak mengherankan, shalat Jum’at di masjid ini selalu penuh dengan jamaah, hahaha...

Bila ingin lebih privat, kita bisa ngopi di salah satu sudut bangunan perkantoran. Penempatan kursi ditata sedemikian rupa, menyatu dengan ruang meeting. Sepintas suasana di dalam area ini mirip kafe. Di samping dingin karena AC, juga lebih privat karena dinding kaca yang tak terlihat dari luar. Masjid ini didesain menjadi masjid bersih dan sehat. Jika Anda perokok, jangan sekali-kali merokok di keseluruhan area masjid bila tidak ingin ditegur oleh security. Sebab di mana pun Anda mengepulkan asap, ada CCTV yang selalu mengawasi, hehehe...

Di bangunan perkantoran ini sendiri terdapat ruang administrasi, ruang meeting, ruang audio control, ruang perlengkapan, termasuk kamar tinggal untuk pengelola dan imam masjid. Letak bangunan ini di sebelah bangunan sanitasi. Kita juga bisa menuju masjid dengan melewati lorong pemisah dua bangunan ini.

Sejak awal pendiriannya, masjid ini sengaja dikelola menggunakan manajemen modern. Manajer masjid sendiri memiliki cukup pengalaman mengelola masjid-masjid di kota besar. Tiga imam yang direkrut semuanya hafiz dan bertugas secara bergantian. Adapun tenaga keamanan dan kebersihan direkrut dari warga sekitar. 

Masjid Bani Solan didirikan oleh Siti Choiriana binti Solan, atau akrab dipanggil Bu Ana. Pendirian masjid ini memang didedikasikan untuk mendiang sang ayah dan dipersembahkan untuk masyarakat Indonesia. ”Alhamdulillah, akhirnya pembangunan masjid di Magetan ini rampung dan bisa digunakan. Masjid Bani Solan ini saya dedikasikan bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk semua golongan, dari anak hingga dewasa dan warga manapun. Jadi tidak ada untuk golongan atau ormas tertentu. Ini milik kita semua,” kata Bu Ana.

Menurut Bu Ana, pembangunan masjid ini dicita-citakan dari niat luhur persatuan Indonesia yang merujuk pada 4 konsep: connectivity, community, content, dan creativity. Connectivity dan community dimaksudkan agar masjid ini menjadi pusat berkumpulnya masyarakat dalam kegiatan dan silaturahmi. Aktivitas di masjid bersifat terbuka, dan tidak sebatas untuk suku, ras, golongan, atau organisasi tertentu. Sedangkan konsep content and creativity dimaksudkan bahwa masjid ini menjadi pusat kreativitas. Masyarakat bisa mendalami ilmu agama, belajar di perpustakaan, hingga diskusi.

“Selama dia masuk masjid, ya silakan melakukan kegiatan tanpa melihat golongan tertentu. Masyarakat bisa menggunakan untuk meeting point, silaturahmi, hingga rest area bagi kendaraan, bus atau musafir yang sedang melakukan perjalanan. Boleh berhenti di sini untuk istirahat, ” tambah Bu Ana.  Masjid selalu terbuka 24 jam buat para musafir. Hanya saja, musafir yang singgah di atas jam sepuluh malam agar melapor pada security untuk alasan keamanan.

Yayasan Solan Mandiri yang menaungi masjid ini menunjuk takmir masjid dengan periodisasi 5 tahun. Ketua yayasan sekaligus bertindak sebagai ketua takmir dibantu oleh sekretaris, bendahara, manajer operasional, pelayanan, kebersihan, dan keamanan. Manajer masjid mengendalikan seluruh operasional masjid, mulai dari kegiatan peribadatan, administrasi, keuangan, hingga kegiatan sosial. Semua itu harus dilaporkan secara tertulis kepada yayasan setiap bulannya.

MASJID RAMAH MUSAFIR

Anda mungkin pernah membaca kisah Imam Ahmad bin Hanbal yang diusir oleh marbot masjid. Seperti dikisahkan dalam biografi beliau, “Manaqib Imam Ahmad bin Hanbal,” beliau menceritakan, suatu ketika di masa tuanya, beliau pernah mengalami peristiwa yang aneh. Tidak memiliki hajat apa pun dan tidak janjian dengan siapa pun, namun tiba-tiba hati beliau tergerak untuk berkunjung ke Bashrah. Padahal saat itu beliau tinggal di Baghdad.  Jaraknya kurang lebih 530 km, sama seperti jarak Jakarta-Purwokerto, Jawa Tengah.

Sesampainya di Bashrah di waktu Isya’, beliau pun singgah di suatu masjid untuk menunaikan shalat jamaah. Berhubung saat itu tidak ada hotel atau penginapan, beliau berencana untuk bermalam di masjid tersebut. Namun oleh marbot masjid, beliau diusir ke luar masjid. Tidak boleh di dalam masjid, beliau rupanya ingin tidur di teras masjid. Lagi-lagi, oleh si marbot, beliau kembali diusir. Padahal saat itu beliau sudah masyhur sebagai imam madzhab. Namun karena saat itu si marbot tidak mengenali beliau, ia pun memperlakukan sang Imam seperti orang kebanyakan.

Peristiwa pengusiran tersebut diperhatikan oleh seorang penjual roti di seberang masjid. Beliau pun ditawari untuk bermalam di sepetak ruangan. Mereka pun mengobrol. Bila berhenti mengobrol, mulut si penjual roti selalu terlihat komat-kamit membaca sesuatu. Ternyata, ia sudah 30 tahun membasahi lidahnya dengan membaca istighfar.

Imam Ahmad pun bertanya faidah istiqomah membaca istighfar pada si penjual roti tersebut. Ia pun menjelaskan bahwa selama 30 tahun istiqomah membaca istighfar, semua keinginannya selalu dikabulkan oleh Allah, kecuali satu yang belum, yaitu keinginannya untuk bertemu dengan Imam Ahmad bin Hanbal. Sang Imam tersentak sambil membaca takbir.  “Allahu Akbar! Allah telah mendatangkan saya jauh-jauh dari Baghdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan, ternyata karena istighfarmu.”

Cerita tersebut bisa menjadi pelajaran penting bagi para takmir masjid. Masjid tidak hanya berfungsi untuk shalat, namun juga tempat yang ramah untuk musafir. Setelah selesai shalat maktubah, takmir atau marbot hendaknya tidak langsung menutup rapat pintu masjid sehingga menyulitkan para musafir untuk istirahat sejenak. Apalagi ditempel pengumuman larangan tidur atau berbaring di karpet, misalnya. Termasuk menutup pagar masjid sehingga menyulitkan musafir untuk menunaikan hajat di kamar kecil.

Allah SWT saja begitu sayang pada musafir. Diberi-Nya para musafir dispensasi (rukhsah) untuk jamak dan qashar shalat. Hal ini menunjukkan bahwa Allah tahu betapa letihnya melakukan perjalanan, apalagi perjalanan jauh. Masjid sebagai ”rumah Allah” semestinya memperlakukan tamu Allah tersebut secara baik dan menjadikan mereka merasa nyaman. Tidak justru memandang para musafir sebagai tamu yang tidak diundang.

Alasan yang jamak terdengar biasanya karena faktor keamanan. Tidak sedikit inventaris masjid yang hilang karena kurangnya penjagaan, misalnya kotak infak, karpet, hingga peralatan audio masjid. Hal ini sebenarnya memang bisa dimaklumi, sebab sebagian besar masjid kita memang tidak memiliki petugas keamanan. Namun apakah alasan itu menjadi faktor mutlak ditutupnya masjid-masjid kita?

Masjid yang dikelola dengan baik tentu tidak menjadikan hal tersebut sebagai alasan. Bila takmir-takmir kita bisa menjalankan fungsi idarah, imarah, dan riayah secara semestinya, maka alibi “menutup masjid agar aman” bisa dihindari. Di sinilah pentingnya pembinaan bagi takmir masjid agar bisa meningkatkan kapasitas dan kompetensi dalam mewujudkan fungsi-fungsi di atas. Di samping tentu saja kesadaran dari para takmir untuk meng-upgrade ilmu ketakmiran.

Lalu apa itu idarah, imarah, dan riayah? Dalam Keputusan Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama No. DJ.II/802 Tahun 2014 tentang Standar Pembinaan Manajemen Masjid, dijelaskan bahwa idarah adalah manajemen masjid, yakni kegiatan pengelolaan yang menyangkut perencanaan, pengorganisasian, pengadministrasian, keuangan, pengawasan, dan pelaporan. Imarah adalah kegiatan kemakmuran masjid, seperti peribadatan, pendidikan, kegiatan sosial, peringatan hari besar Islam. Sedangkan riayah adalah pemeliharaan dan pengadaan fasilitas masjid, yakni kegiatan pemeliharaan bangunan, peralatan, lingkungan, kebersihan, keindahan, dan keamanan masjid, termasuk penentuan arah kiblat.

Dalam Kepdirjen Bimas Islam tersebut, juga diklasifikasikan 8 tipologi masjid, yakni (1) Masjid Negara, yaitu Masjid Istiqlal Jakarta; (2) Masjid Nasional, yaitu Masjid Al-Akbar Surabaya; (3) Masjid Raya, berkedudukan di provinsi; (4) Masjid Agung berkedudukan di kabupaten/kota; (5) Masjid Besar, berkedudukan di kecamatan; (6) Masjid Jami’, berkedudukan di pemukiman/desa/kelurahan; (7) Masjid Bersejarah, memiliki nilai sejarah penyebaran Islam atau perjuangan bangsa; dan (8) Masjid di Tempat Publik, berada di kawasan publik, seperti perkantoran, pendidikan, perbelanjaan, transportasi, rest area, dan sebagainya. Delapan tipologi masjid tersebut memiliki standar idarah, imarah, dan riayah masing-masing.

Masjid Bani Solan Magetan menjadi fenomena menarik dalam kacamata masjid ideal untuk tipologi Masjid di Tempat Publik. Di samping bersebelahan dengan lembaga pendidikan, masjid ini juga berfungsi sebagai rest area. Dengan tipologi tersebut, masjid ini menjadikan keterbukaan dan kenyamanan menjadi fokus utama. Masjid dibuka 24 jam dengan menyediakan fasilitas masjid yang bikin betah dan nyaman.

Fungsi utama masjid sebagai tempat ibadah tentu menitikberatkan aspek kenyamanan. Orang bisa beribadah dengan nyaman apabila ditunjang oleh fasilitas yang membuatnya nyaman, seperti ruangan yang bersih dan sehat. Tidak hanya itu, fasilitas pendukung turut menjadikan masjid ini sebagai tempat transit favorit, utamanya bagi para musafir atau pelancong. Standar idarah, imarah, dan riayah masjid ini sebagaimana dijelaskan Kepdirjen Bimas Islam di atas bahkan hampir mendekati sempurna.

Tidak mengherankan, Masjid Bani Solan meraih prestasi sebagai juara kedua kategori “Masjid Bersih dan Sehat” dalam ajang Masjid Award yang diselenggarakan oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Timur pada tahun 2022. Dengan standar yang tinggi, masjid ini memenuhi hampir semua indikator bersih dan sehat. Hanya satu aspek yang belum ada di kategori ini di masjid ini, yakni tidak adanya fasilitas kesehatan.

Hal ini bukannya tidak disadari oleh takmir masjid. Menurut Abdullah, manajer masjid, ketiadaan fasilitas kesehatan dikarenakan di dekat masjid sudah ada Puskesmas Sukomoro. Bahkan persis di sebelah masjid, sudah ada apotik. “Sebagai evaluasi dari penilaian pada ajang Masjid Award tersebut, saat ini kami telah menyediakan ruang kesehatan dan ruang laktasi untuk ibu yang hendak menyusui bayinya,” kata Abdullah.

Di samping itu, fasilitas lain yang belum ada di masjid ini adalah pertokoan. Padahal masjid ini adalah tempat transit favorit. Banyak para musafir yang tentu membutuhkan makanan, minuman, atau barang-barang kebutuhan pribadi lainnya. Menurut Abdullah, hal ini karena, lagi-lagi, di dekat masjid sudah ada toko dan bahkan warung makan di seberang masjid. “Ya gimana ya, kita kan gak enak sama tetangga masjid yang telah membuka usaha sebelum masjid ini berdiri. Namun bila dirasa memang dibutuhkan, kita akan mempertimbangkan untuk membuka stand, mungkin dengan bersinergi dengan warga sekitar,” tambahnya.

Meski demikian, Masjid Bani Solan tetap saja menjadi favorit buat para musafir dan pelancong. Fasilitas yang ”mewah” tidak hanya memberikan kenyamanan, namun juga menarik masyarakat untuk ikut merasa memiliki. Mereka yang transit dan memanfaatkan masjid untuk istirahat bahkan merasa heran tidak adanya kotak infak. Mereka ”protes” ke takmir agar memfasilitasi jamaah untuk berinfak. Takmir akhirnya memberi dua pilihan berinfak: kotak infak atau melalui QRIS.

Sebagai masjid yang baru berusia 2 tahun, potensi masjid ini masih sangat bisa dikembangkan dengan lebih optimal. Standar idarah dan riayah masjid ini memang terlihat lebih menonjol dibandingkan standar imarah. Kolaborasi dengan masyarakat sekitar dalam penyelenggaraan PHBI, misalnya, bisa lebih ditingkatkan. Partisipasi masyarakat ini menjadi kunci kemakmuran masjid dengan berbagai kegiatan ”pemakmuran”. Bila masyarakat merasa ”dimakmurkan” oleh masjid, mereka pun akan tergerak untuk memakmurkan masjid.

Masjid Bani Solan Magetan kini menjadi rujukan masjid ramah musafir dengan fasilitas bintang lima. Bahkan tidak hanya ramah musafir, program dan fasilitas yang disediakan masjid ini juga mencukupi kategori masjid ramah anak, ramah dhuafa, dan ramah lingkungan.  Peruntukan masjid untuk semua golongan juga menjadikan masjid ini layak masuk kategori ramah keragaman. Walhasil, masjid ini barangkali mendekati kualifikasi paripurna.

Bagaimana membuktikannya? Datangi saja masjid ini secara langsung. Takmir masjid akan dengan senang hati dan tangan terbuka menyambut Anda.*)

Tulisan ini dimuat dalam buku "Inovasi Mewujudkan Masjid Ramah untuk Kemaslahatan Semua" yang diterbitkan oleh Subdit Kemasjidan Direktorat Urais Binsyar Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama R.I. (2024)

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Sebab Mengasihi Sesama, Orang Ini Berhaji Mabrur Tanpa Berangkat ke Makkah

No comments:
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم





Kejadian ini dialami oleh Abu Abdurrahman Abdullah bin Al-Mubarak bin Al-Hanzhali bin Al-Mawarzi atau yang lebih dikenal dengan Abdullah bin Mubarak (736-797 M).

Suatu hari, setelah menyelesaikan hajinya, Abdullah tertidur. Di dalam tidurnya, ia melihat dua malaikat. Salah satu dari malaikat itu bertanya kepada yang lainnya, “Berapa orang yang haji tahun ini?” “600 ribu orang”. Lalu ditanyakan lagi, “Berapa orang di antara mereka yang hajinya diterima?” “Tidak ada!”

Mendengar percakapan dua malaikat itu sontak membuat Abdullah bin Mubarak gemetar. Bagaimana tidak, di antara enam ratus ribu orang yang hajinya tidak diterima tersebut ada dirinya.

Salah satu dari malaikat tadi kembali berkata, “Di Damaskus ada seorang tukang sepatu, Ali bin Muwaffaq namanya, ia tidak berangkat haji, namun hajinya diterima dan dosanya diampuni Allah”.

Setelah terbangun, Abdullah langsung memutuskan untuk pergi ke Damaskus untuk menemui orang tersebut.

Singkat cerita, bertemulah ia dengan si tukang sepatu. Abdullah bin Mubarak lalu menceritakan perihal mimpinya. Setelah mendengar semua, Ali pun berkisah, “Tiga puluh tahun lamanya aku bercita-cita menunaikan ibadah haji...

Dan dari pekerjaanku yang sebagai tukang sepatu inilah aku berhasil mengumpulkan uang 350 dirham. Walhasil, awalnya aku sudah berniat akan langsung berangkat haji tahun ini. Namun pada suatu hari, istriku yang sedang mengidam mencium aroma masakan tetangga kami.

Ia lantas memohon kepadaku untuk mau meminta sedikit makanan dari tetangga kami tersebut. Aku pun pergi menemuinya, dan segera menceritakan maksud kedatanganku. Setelah mendengar maksudku, tetanggaku menangis hebat, kemudian berkata,

"Tiga hari lamanya anak-anakku tidak makan, dan tadi siang aku melihat ada seekor keledai, lalu aku memasaknya. Sungguh makanan ini tidak halal bagimu dan istrimu". Mendengar kegetiran hidupnya, aku pun memberikan seluruh tabungan hajiku untuk keperluan hidupnya. ‘Inilah ibadah hajiku,’ kataku.”

“Pemilik Kerajaan benar-benar adil dalam keputusan-Nya (menjadikan engkau haji mabrur),” kata Abdullah bin Mubarak pasca mendengar semuanya.

_____

Tadzkirah Al-Auliya', hlm. 230-232 @thoriqatuna


ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين

Setitik Darah di Kertas Putih

No comments:
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Beberapa waktu lalu saya mendengar cerita yang cukup memilukan dari seorang teman, Bu I’in namanya. Ia merupakan guru di salah satu sekolah dasar di Magetan, Jawa Timur. Diceritakan, dalam satu kesempatan ia bertanya pada murid-muridnya kelas II tentang cita-cita mereka kelak saat dewasa. Seperti halnya cita-cita pada umumnya, mereka menjawab ingin menjadi dokter, guru, dan sebagainya. Namun, dari sekian cita-cita yang disebutkan, ternyata ada satu cita-cita yang membuat sang guru terhenyak kaget. Salah satu murid, katanya, bercita-cita ingin menjadi teroris!
“Ingin jadi teroris? Gak salah tuh, Bu?” tanya saya.
“Benar. Saya juga kaget,” jawab Bu I’in.
Setelah menghela nafas sejenak, ia melanjutkan, “Maka saya lalu bertanya, kenapa ia sampai punya keinginan seperti itu? Barangkali saja ia salah sebut atau tidak paham apa itu teroris,” tebaknya.
“Lalu apa katanya, Bu?” tanya saya penasaran.
“Dia bilang teroris itu deretetetetet...der...der...! Dia mengatakan itu sambil memeragakan tangannya seakan memegang senapan.
Belum sempat Bu I’in bertanya lagi, si murid itu memberi alasan, “Saya ingin jadi teroris karena saya sudah terlanjur nakal, Bu!” lanjutnya.
“Siapa yang mengatakan itu?” tanya Bu I’in sambil menahan pilu.
“Orang-orang mengatai saya seperti itu, Bu! Termasuk ibu saya!” balas si murid.
Saya yang mendengar cerita itu hanya bisa tertegun. Apa yang salah dari fenomena ini? Kenapa anak sebelia itu di dalam hatinya sudah tumbuh bibit kekerasan? Apakah stigma “anak nakal” sudah sedalam itu sehingga ia pun mengamininya? Bukankah keluarga merupakan sekolah utama pendidikan karakter? Apakah para teroris itu semasa kecil dulu juga mendapatkan perlakuan yang sama? Terus terang, saya miris mendengarnya. 
Sejak saat itu, saya mulai rajin membuka buku kembali dan googling di internet untuk menjelajah beberapa tinjauan psikologi, terutama psikologi anak dan psikologi kekerasan. Dari beberapa literatur yang saya baca, saya menangkap pesan bahwa seorang anak korban kekerasan mengalami perubahan struktur syaraf di area otak anterior cingulate cortex. Bagian ini berperan penting dalam mengatur emosi dan suasana hati. Kekerasan dimaksud tidak hanya berupa fisik, namun juga verbal dan psikis.
Lebih jauh diungkapkan, tindak kekerasan yang parah pada masa kecil ternyata berefek pada peningkatan risiko gangguan kejiwaan seperti depresi, serta tingginya tingkat impulsivitas, agresivitas, kecemasan, penyalahgunaan zat terlarang, dan bunuh diri. Dari sini saya memahami, kekerasan verbal yang sering diterima si murid menyebabkan psikisnya terganggu dan mengakibatkan perilakunya agresif dan permisif pada kekerasan. Keinginannya untuk menjadi teroris telah mengonfirmasi hal tersebut.
Lama saya merenungkan peristiwa ini. Dan sulit bagi saya memahami kejadian ini. Terorisme yang mengajarkan kekerasan, penghilangan nyawa manusia, menebarkan rasa takut, dan berbagai atribut kekejaman lainnya telah menjangkiti masa kanak-kanak, masa dimana mereka seharusnya belajar, bermain dan bersenang-senang dengan teman sebayanya. Masa dimana mereka mengenal karakter antarsesama, belajar menghormati dan menghargai, serta menyadari perbedaan dan kemajemukan.
Saya kemudian membaca beberapa riwayat hadits tentang anak, salah satunya yang mengajarkan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Bahwa bayi yang dilahirkan berada dalam keadaan tanpa dosa, bersih dan suci, seperti halnya kertas putih yang belum ditulisi, dan masa depannya tergantung kepada orangtua dalam mendidiknya. Nabi bersabda, “Semua bayi yang dilahirkan adalah dalam keadaan fitrah. Hanya saja bapak ibunya yang menjadikan anaknya menjadi Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.” (HR. Muslim)
Hadits ini menerangkan bahwa orangtua adalah penulis utama kertas putih itu. Seorang bayi yang baru dilahirkan, ia bersih tak bernoda, seperti halnya kertas putih yang belum ditulisi. Bila kertas itu ditulisi kebaikan, ia menjadi berharga dan mahal. Bila sejak kecil ia dibentuk dengan kasih sayang, maka tumbuhlah di dalam hatinya sifat rahmah.
Sifat rahmah merupakan pancaran dari sifat Allah Yang Maha Menyayangi. Dengan ‘rahmah’, seseorang akan menyayangi siapa saja, yang berbuat baik kepadanya maupun yang berbuat jahat. Ia seperti samudera yang menampung tidak hanya mutiara berharga, tetapi juga sampah dan bangkai yang busuk. Bahkan segala sampah dan bangkai itu akan perlahan hilang, bersenyawa dan berurai menjadi entitas yang baru.
Namun bila kertas itu ditulisi keburukan, ia hanya layak dibuang ke tempat sampah. Jika seorang anak dididik dan dibentuk dalam lingkungan yang mengajarkan kekerasan, ia cenderung akan menjadi seperti lingkungannya. Bibit kekerasan yang disiram sejak kecil itu akan menjadi pohon besar, dahan dan akarnya bercabang-cabang kemana-mana.
Teori behaviorisme mengafirmasi bahwa perilaku kekerasan berasal dari hasil belajar. Seorang anak mempelajari pola kekerasan dari orangtua dan lingkungannya. Meski mereka sering tidak menyadarinya, tetapi pengaruh pembelajaran kekerasan itu dicerap dengan sangat baik oleh anaknya. Seorang anak merupakan duplikasi dan replikasi dari orang-orang terdekatnya.
Seorang anak yang hilang kontrol dirinya, ia akan kehilangan nilai-nilai kebaikan, etika, dan moralitas yang diyakininya. Kepada orang yang lebih tua ia hilang penghormatan, kepada yang lebih muda ia hilang kasih sayang. Kepada yang berilmu ia tidak suka, kepada yang kurang ilmu ia hina sedemikian rupa. Walhasil, kertas putih yang ternoda oleh setitik darah, darah itu akan semakin larut membaluri kertas itu. Bara api di dalam dadanya selalu membakar siapa saja, tak peduli dampak buruk jangka pendek dan panjangnya.
Dalam psikoanalisa, perilaku ini disebabkan oleh goncangnya struktur jiwa yang terdiri dari superego, ego, dan id. Superego merupakan dorongan atas internalisasi nilai-nilai, yang biasanya berasal dari orangtua maupun ajaran agama. Ego bekerja berdasarkan prinsip realita yang menggerakkan perilaku sadar seseorang. Sedangkan id bekerja berdasarkan prinsip kenikmatan atau kesenangan (principe of pleasure). Maka pribadi yang sehat adalah mereka yang memiliki ego yang kuat, sehingga mampu mengontrol dorongan yang berasal dari id maupun superego dalam dirinya.
Salah satu cara membentuk karakter seorang anak adalah dengan memastikan kasih sayang yang cukup dalam keluarga. Orangtua harus bisa mendidik anak agar bisa mengontrol id-nya sehingga sejalan dengan ajaran agama dan nilai moral yang universal. Pola didik yang ‘salah asah’, ‘salah asih’, dan ‘salah asuh’ akan berpengaruh terhadap karakter seseorang. Anak yang kurang kasih sayang cenderung berkarakter keras dan kaku. Sebaliknya, anak yang cukup mendapatkan kasih sayang akan memiliki karakter yang lembut dan toleran.
Dalam Islam, pendidikan kasih sayang telah diajarkan sedemikian rupa oleh Rasulullah SAW. Dalam suatu hadits riwayat Muslim diceritakan, suatu ketika Rasulullah SAW mencium Hasan bin Ali, cucu yang amat dicintainya. Ketika itu, tepat di samping beliau terdapat sosok al-Aqra’ bin Habits at-Tamimi, yang memiliki sepuluh anak. Anehnya, saat melihat perlakuan Rasulullah SAW itu, ia bingung. Kemudian ia pun berkata, “Anakku sepuluh. Tapi, aku tak pernah mencium satu pun diantara mereka.” Rasulullah SAW lalu bersabda, “Barangsiapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”
Namun demikian, kehangatan orangtua dalam mendidik anak juga harus diimbangi dengan ketegasan. Bahkan Nabi menegaskan bahwa seandainya Fatimah, putri kesayangannya mencuri, beliau sendiri yang akan memotong tangannya. Beliau bersabda, “Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya” (HR. Bukhari dan Muslim). 
Berangkat dari riwayat di atas, maka mendidik karakter anak merupakan seni yang harus dipelajari dan dipraktikkan secara proporsional. Dua hadits di atas menunjukkan dua variabel yang mempengaruhi karakter anak, yaitu kehangatan dan ketegasan yang seimbang. Orangtua tidak boleh terlalu lunak atau terlalu keras terhadap anak. Hubungan di antara mereka juga harus hangat dan bersahabat. Pola tarik dan ulur ini penting agar anak memiliki keseimbangan dalam memutuskan segala sesuatu.
Tugas orangtua tidak hanya membesarkan anak, mencukupi kebutuhan sandang pangan dan papan, serta menyekolahkan mereka. Kewajiban orangtua yang terpenting adalah mengantarkan mereka menjadi hamba Allah yang taat dan bermanfaat untuk orang banyak, serta menjadi pribadi yang berkarakter mulia. Karakter ini bisa terwujud jika mereka berpedoman pada manhaj al-fikr yang tawasuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal dalam keseharian mereka.  
Memang harus diakui, salah satu tingkah laku primitif manusia adalah perilaku kekerasan. Perilaku ini bahkan sudah setua peradaban manusia, sejak peristiwa pembunuhan Qabil terhadap saudara kandungnya, Habil. Hanya karena dijangkiti sifat iri dan dengki, sang kakak rela melakukan tindakan pembunuhan terhadap adiknya sendiri. Namun demikian, hal tersebut tidak berarti seseorang harus membiarkan karakter liarnya merusak dirinya. Ia memiliki kontrol dalam dirinya. Jika gagal mengendalikan dirinya, mereka berpotensi menjadi “binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi” (Qs. al-A’raf: 179)
Allah SWT telah menganugerahkan tidak hanya potensi fujur (kefasikan) tetapi juga potensi takwa kepada setiap manusia (baca Qs. al-Syams: 8). Dua potensi yang berkebalikan ini menuntut manusia agar arif dan bijaksana dalam mengambil sikap. Suatu ‘sikap’ yang dilakukan secara kontinyu memang bisa merubahnya menjadi ‘sifat’ atau ‘karakter’. Maka membiasakan bertingkah laku baik menjadi penting agar dapat menjadikan jiwa menjadi suci. Sebaliknya, membiasakan bertingkah laku buruk akan menjadikan jiwa menjadi kotor. Dan itulah beda orang yang beruntung dan merugi (baca Qs. al-Syams: 9-10).
Kembali pada cerita tentang cita-cita anak SD menjadi teroris. Pertanyaan mendasarnya, apakah kertas yang telah ternodai setitik darah itu bisa disucikan kembali? Apakah anak yang dalam hatinya sudah ada bibit kekerasan itu bisa diarahkan menjadi anak yang berkarakter baik? Jawabannya, bisa! Tentu dengan cara dan hasil yang sesuai dengan keinginan yang kuat untuk berubah, lingkungan yang mendukung, serta konsistensi usaha dan pembiasaan berkarakter baik. Semoga!

(Tulisan ini meraih Juara I Lomba Karya Tulis Naskah Dakwah dengan tema “Ayat-ayat Damai” yang diselenggarakan oleh BNPT Tahun 2018)
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين