Hujjah NU: Maulid Nabi, Membaca Shalawat, Mahallul Qiyam

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Menghormati Nabi SAW:
1.  Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW
2.  Perintis Peringatan Maulid Muhammad SAW
3.  Membaca Shalawat kepada Nabi, Keluarga dan Sahabat Nabi SAW
4.  Mencintai Keluarga dan Sahabat Nabi SAW
5.  Mahallul-Qiyam (Berdiri Ketika Membaca Shalawat)

1. Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW
Sebagai seorang mukmin, pengungkapan rasa syukur dan kegembiraan atas nikmat yang diterima adalah suatu keharusan. Karena dengan itulah nikmat yang diterima akan terus ditambah oleh Allah SWT. Firman Allah SWT:
قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَ بِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا (يونس: 58)
“Katakanlah (Muhammad), sebab anugerah dan rahmat Allah (kepada kalian), maka bergembiralah mereka.” (QS. Yunus: 58).

Begitu pula dengan kelahiran seseorang ke alam dunia merupakan nikmat tidak terhingga yang harus disyukuri. Sebagaimana Rasulullah SAW mensyukuri hari kelahirannya dengan berpuasa. Dalam sebuah hadits diriwayatkan:
عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ اْلأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ اْلإِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيّ َ(رواه مسلم، 1977)
“Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari RA, bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa Senin. Maka beliau menjawab, “Pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku.” (HR. Muslim [1977]).
Walaupun dengan tata cara yang berbeda, tetapi apa yang dilakukan Rasul dan perayaan maulid yang dilaksanakan oleh umat Islam saat ini mempunyai esensi yang sama. Yakni bergembira dan bersyukur atas kelahiran Rasulullah SAW sebagai suatu nikmat yang amat besar. [1]
Sekitar lima abad yang lalu Imam Jalaluddin al-Suyuthi (849-910 H/1445-1505 M) pernah menjawab polemik tentang perayaan Maulid Nabi SAW. Di dalam al-Hawi li al-Fatawi beliau menjelaskan:
“Ada sebuah pertanyaan tentang perayaan Maulid Nabi SAW pada bulan Rabi’ul Awal, bagaimana hukumnya menurut syara’. Apakah terpuji ataukah tercela? Dan apakah orang yang melakukannya diberi pahala ataukah tidak? Beliau menjawab, “Jawabannya menurut saya bahwa semula perayaan Maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan kehidupannya. Kemudian menghidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu termasuk bid’ah hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW yang mulia.” (Al-Hawi li al-Fatawi, juz I, hal. 251-252).
Bahkan hal ini juga diakui oleh Ibnu Taimiyyah, sebagai-mana dikutip oleh Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki:
“Ibnu Taimiyyah berkata, “Orang-orang yang melaksanakan perayaan Maulid Nabi SAW akan diberi pahala. Demikian pula yang dilakukan oleh sebagian orang, adakalanya bertujuan meniru kalangan Nasrani yang memperingati kelahiran Isa AS, dan adakalanya juga dilakukan sebagai ekspresi rasa cinta dan penghormatan kepada Nabi SAW. Allah SWT akan memberi pahala kepada mereka atas kecintaan mereka kepada Nabi mereka, bukan dosa atas bid’ah yang mereka lakukan.” (Manhaj al-Salaf fi Fahm al-Nushush Bain al-Nazhariyyah wa al-Tathbiq, hal. 399)

2. Perintis Peringatan Maulid Muhammad SAW
Imam Jalaluddin al-Suyuthi mengatakan bahwa orang yang pertama kali mengadakan perayaan Maulid Nabi SAW adalah penguasa Irbil, Raja Muzhaffar Abu Sa’id al-Kukburi bin Zainuddin Ali bin Buktikin, seorang raja yang mulia, luhur dan pemurah. Beliau merayakan Maulid Nabi SAW yang mulia pada bulan Rabi’ul Awal dengan perayaan yang meriah.” (Al-Hawi li al-Fatawi, juz I, hal. 252).
Beliau adalah seorang raja yang shaleh dan bermadzhab Ahlussunnah. Terkenal sangat pemurah dan baik hati. Beliau adalah seorang yang rendah hati, baik budi, seorang sunni (termasuk golongan Ahlussunnah Wal-Jama‘ah) dan mencintai fuqaha dan ahli hadits. Beliau wafat tahun 630 H pada usia beliau 82 tahun.” (Tahdzib Siyar A‘lam al-Nubala‘, juz III, hal. 224).

3. Membaca Shalawat kepada Nabi, Keluarga dan Sahabat Nabi SAW
Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW merupakan ibadah yang sangat terpuji. Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (الأحزاب: 56)
“Sesungguhnya Allah SWT dan para malaikat-Nya membaca shalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian membaca shalawat disertai salam kepadanya.” (QS. al-Ahzab: 56).
Jelas sekali ayat ini menyuruh umat Islam untuk membaca shalawat kepada Nabi SAW di manapun dan kapanpun saja. Tujuannya adalah untuk mengagungkan sekaligus mengharap barokah Nabi SAW.
Demikian pula membaca shalawat kepada keluarga dan sahabat Nabi SAW juga dianjurkan. Allah SWT berfirman:
وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (التوبة: 103)
“Berdoalah untuk mereka, sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman bagi jiwa mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Taubah: 103).
Dalam menafsirkan ayat ini, al-Hafizh Ibnu Katsir mengatakan bahwa maksud firman Allah SWT (wa shalli ‘alaihim) artinya berdoalah dan minta ampunlah kamu untuk mereka. (Tafsir Ibn Katsir, juz II, hal. 400).
Dalam sebuah hadits:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَاهُ قَوْمٌ بِصَدَقَتِهِمْ قَالَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ فُلاَنٍ فَأَتَاهُ أَبِي بِصَدَقَتِهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ أَبِي أَوْفَى (رواه البخاري، 1402)
“Dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata, "Rasulullah SAW jika diberi sedekah oleh suatu kaum, beliau berdoa “Ya Allah mudah-mudahan Engkau mencurahkan shalawat kepada keluarganya”. Dan ketika ayahku memberikan sedekah kepada Rasulullah SAW, beliau juga berdoa “Ya Allah mudah-mudahan Engkau memberikan shalawat-Mu kepada keluarga Abi Aufa”. (HR. al-Bukhari [1402]).
Begitu pula dengan hadits Nabi SAW:
عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَيْهِ وَهُوَ يَقُوْلُ اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَوَاتِكَ وَرَحْمَتَكَ عَلَى آلِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ (رواه أبو داود، 4511)
 “Diriwayatkan dari Qais bin Sa’ad bin Ubadah bahwa Nabi SAW mengangkat kedua tangannya sembari berdoa, Ya Allah, jadikanlah kesejahteraan dan rahmat-Mu kepada keluarga Sa’ad bin Ubadah.” (HR. Abu Dawud [4511]).
Menjelaskan hadits ini, sekaligus menegaskan tata cara membaca shalawat kepada sahabat dan keluarga nabi, al-Imam al-Hafizh al-Sakhawi mengatakan:
“Abu al-Yumn bin Asakir berkata, “Satu golongan mengatakan (tentang membaca shalawat kepada selain para nabi) bahwa hal tersebut boleh secara mutlak (baik bersamaan dengan shalawat kepada nabi ataupun tidak). Hal itu adalah apa yang dilakukan oleh Imam al-Bukhari ketika mengawali dengan ayat yaitu wa shalli ‘alaihim (hendaklah kamu membaca shalawat untuk mereka). Lalu beliau mengaitkannya dengan hadits yang membolehkannya secara mutlak dan menambahkan hadits yang membolehkannya secara tab’an (bersamaan dengan shalawat kepada Nabi). Ini terjadi setelah beliau menjelaskan bab apakah boleh membaca shalawat kepada selain Nabi SAW baik secara mandiri maupun ikut pada shalawat kepada Nabi. Maka masuk pada kategori selain Nabi Muhammad SAW para Nabi yang lain, para malaikat dan orang-orang mukmin.” (Al-Qawl al-Badi’ fi al-Shalah ‘Ala al-Habib al-Syafi`, hal. 55).

4. Mencintai Keluarga dan Sahabat Nabi SAW
Di dalam kitab ‘Allimu Awladakum Mahabbata Ali Bait al-Nabiy dijelaskan bahwa yang tergolong ahlul-bait adalah Sayyidatuna Fathimah, Sayyidina Ali, Sayyidina Hasan dan Sayyinina Husain –radhiyallahu ‘anhum. Mereka semua termasuk ahlul-kisa’ yang disebutkan dalam hadits.[2] Begitu pula istri-istri Nabi merupakan keluarga Nabi berdasarkan keumuman ayat al-Qur’an,[3] serta manthuq (arti tersurat) hadits yang menerangkan tentang anjuran membaca shalawat kepada Nabi SAW, istri dan keluarga beliau”.[4] (‘Allimu Awladakum Mahabbata Ali Bait al-Nabiy, hal. 18).
Sedangkan sahabat nabi adalah orang yang pernah bertemu Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih hidup walaupun sebentar, dalam keadaan beriman dan mati dengan tetap membawa iman. (Al-Asalib al-Badi’ah, hal. 457).
Dalam keyakinan Ahlussunnah Wal-Jama’ah, mencintai keluarga dan sahabat Nabi SAW, sekaligus memberikan penghormatan khusus kepada mereka merupakan suatu keharusan. Ada beberapa alasan yang mendasari hal tersebut:
Pertama, mereka adalah generasi terbaik Islam. Menjadi saksi mata dan pelaku perjuangan Islam. Bersama Rasulullah SAW menegakkan agama Allah SWT di muka bumi. Mengorbankan harta bahkan nyawa untuk kejayaan Islam. Allah SWT meridhai mereka serta menjanjikan kebahagiaan di surga yang kekal dan abadi. Firman Allah SWT:
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ اْلأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلاَةَ وَءَاتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا (الأحزاب: 33)
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul-bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. (QS. al-Ahzab: 33).
وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (التوبة: 100)
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. al-Taubah: 100).
Kedua, Rasulullah SAW sangat mencintai keluarga dan sahabatnya. Dalam banyak kesempatan, Rasulullah selalu memuji para keluarga dan sahabatnya. Melarang umatnya untuk menghina mereka. Beliau J bersabda:
عَنْ اَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِي قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ J ، إِنَّنِيْ تَارِكٌ فِيْكُمُ الثَّقَلَيْنِ كِتَابَ اللهِ وَعِتْرَتِيْ أَهْلُ بَيْتِيْ (رواه الترمذي ، 370)
“Dari Abi Sa’id al-Khudri ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian dua wasiat, Kitabullah (al-Qur’an) dan keluargaku.” (HR. al-Tirmidzi [370]).
Dan sabda Rasul SAW:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ (رواه مسلم، 4610)
“Dari Abu Hurairah D. berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian mencaci para sahabat, janganlah kalian mencaci sahabatku! Demi Dzat Yang Menguasaiku, andaikata salah satu diantara kalian menafkahkan emas sebesar gunung Uhud, maka (pahala nafkah itu) tidak akan menyamai (pahala) satu mud atau setengahnya dari (nafkah) mereka”. (HR. Muslim [4610]).
Dari sinilah, mencintai keluarga dan sahabat Nabi adalah mengikuti teladan Rasulullah SAW yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari mencintai Nabi SAW.
Ketiga, Tuntunan dan teladan ini juga diberikan oleh keluarga dan sahabat Rasul sendiri. Di antara mereka terdapat rasa cinta yang mendalam. Antara satu dengan lainnya saling menghargai dan menghormati.[5] Hal ini dibuktikan dari ungkapan-ungkapan mereka:
1.   “Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Sesungguhnya Abu Bakar berkata, “Sungguh kerabat Rasulullah SAW lebih aku cintai daripada kerabatku sendiri”. (HR. al-Bukhari [3730]).
2.   ”Dari Ibnu Umar RA, dari Abi Bakar RA, beliau berkata, ”Perhatikanlah Nabi Muhammad SAW pada ahlul-bait-nya” (HR. al-Bukhari [3436]).
3.   “Dari Wahab al-Suwa’i, ia berkata, “Sayyidina Ali RA pernah berkhutbah kepada kami. Beliau bertanya, “Siapa orang yang paling mulia setelah Nabi Muhammad SAW? Aku menjawab, “Engkau wahai Amirul Mukminin”. Sayyidina Ali RA berkomentar, “Tidak, hamba yang paling mulia setelah nabinya adalah Abu Bakar, kemudian Umar.” (Al-Syafi, Juz II, hal. 428).
4.    “Ketika sahabat Umar dimandikan dan dikafani, Sayyidina Ali RA masuk, lalu berkata, “Tidak ada di atas bumi ini seorangpun yang lebih aku sukai untuk bertemu Allah SWT dengan membawa buku catatan selain dari yang terbentang di tengah-tengah kalian ini (yakni jenazah Sayyidina Umar).” (Ma’ani al-Akhbar, hal. 117).
5.   Dari 33 putra Sayyidina Ali RA tiga di antaranya diberi nama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Dari 14 putra Sayyidina Hasan RA dua di antaranya diberi nama Abu Bakar dan Umar, dan di antara 9 putra Sayyidina Husain RA dua di antaranya diberi nama Abu Bakar dan Umar. Pemberian nama ini tentu saja dipilih dari nama orang-orang yang menjadi idolanya, dan tidak mungkin diambil dari nama musuhnya. (Al-Hujaj al-Qath’iyyah, hal. 195).
6.   Bagi Ahlussunnah Sayyidina Ali RA adalah seorang imam yang mulia dan harus dijadikan panutan. Sayyidina Ali RA adalah seorang pemberani dan sekali-kali bukanlah seorang pengecut. Sebagai pemimpin pasukan, di antara sekian banyak peperangan yang dilakukan pada zaman Rasul SAW, beliau selalu menjadi pahlawan yang tak terkalahkan. Karena itu tidak mungkin beliau bersikap penakut dan pura-pura atau taqiyah apalagi mengajarkannya. Di samping itu, Sayyidina Ali RA adalah sosok yang bersih hatinya dan jauh dari sifat pendendam. Sikap dan perilaku beliau telah membuktikan bahwa beliau bukan jenis manusia yang di dalam hatinya penuh dengan dendam kesumat, karena itu tidak mungkin beliau mengajarkan mengumpat dan mencaci maki orang yang dicintai Rasulullah SAW dan dihormati oleh beliau sendiri seperti Sayyidina Abu Bakar RA, Sayyidina Umar RA, Sayyidina Utsman RA, Sayyidatuna ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha- dan lain sebagainya.
Inilah beberapa alasan yang melandasi keharusan mencintai keluarga dan sahabat Nabi SAW. Sudah tentu kecintaan dan penghormatan yang diberikan adalah secara berimbang. Tetap berpedoman pada prinsip tawassuth, tawazun dan i'tidal. Jauh dari cinta dan fanatisme buta.

5. Mahallul-Qiyam (Berdiri Ketika Membaca Shalawat)
Berdiri untuk menghormati sesuatu sebetulnya sudah menjadi tradisi kita. Bahkan tidak jarang, orang berdiri untuk menghormati benda mati. Misalnya, setiap kali upacara bendera dilaksanakan pada hari Senin, setiap tanggal 17 Agustus, maupun pada waktu yang lain, ketika bendera merah putih dinaikkan dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan, maka seluruh peserta upacara diharuskan berdiri. Tujuannya tidak lain hanya untuk menghormat bendera merah putih dan mengenang jasa para pejuang bangsa.
Maka demikian pula dengan berdiri ketika membaca shalawat.[6] Itu adalah salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai hambah Allah SWT yang paling mulia. Nabi SAW bersabda:
عَن أَبِيْ سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلأَنْصَارِ، قُومُوا إِلَى سَيِّدِكُمْ أَوْ خَيْرِكُمْ (رواه مسلم ، 3314)
“Dari Abi Sa’id Al-Khudri beliau berkata, “Rasulullah SAW bersabda pada sahabat Anshar, “Berdirilah kalian untuk tuan kalian atau orang yang paling baik di antara kalian.” (HR. Muslim [3314]).
Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki menyatakan bahwa Imam al-Barzanji di dalam kitab Maulid-nya yang berbentuk prosa menyatakan, “Sebagian para imam ahli hadits yang mulia itu menganggap baik (istihsan) berdiri ketika disebutkan sejarah kelahiran Nabi SAW. Betapa beruntungnya orang yang mengagungkan Nabi SAW, dan menjadikan hal itu sebagai puncak tujuan hidupnya.” (Al-Bayan wa al-Ta‘rif fi Dzikra al-Mawlid al-Nabawi, hal. 29-30).[]


[1] Inilah hakikat perayaan Maulid Nabi SAW yang dilakukan di tengah masyarakat. Yakni pengungkapan rasa senang dan syukur atas terutusnya Nabi Muhammad SAW. Diwujudkan dengan cara mengumpulkan orang banyak. Lalu diisi dengan pengajian keimanan dan keislaman, mengkaji sejarah dan akhlaq Nabi SAW untuk diteladani.
[2] “Dari Ummi Salamah – radhiyallahu ‘anha, “Setelah turun ayat (QS. al-Ahzab 33) “sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa kamu hai ahlul-bait (anggota keluarga Rasulullah B). Dan dia hendak membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” Maka Rasulullah SAW menutupkan kain kisa’-nya (selimutnya) di atas Ali, Fathimah, Hasan dan Husain, seraya berkata, “Ya Allah mereka adalah ahli baitku. Maka hapuskanlah dari mereka dosa dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya. (HR. al-Tirmidzi [2139].
[3] Yakni firman Allah SWT “Nabi itu lebih utama bagi orang mukmin daripada diri mereka sendiri. Dan Istri-istri Nabi adalah ibu mereka” (QS. al-Ahzab: 6).
[4] “Dari Abu Humaid al-Sa’idi RA ia bertanya kepada Rasulullah SAW bagaiamana cara kami membaca shalawat kepadamu?. Rasulullah SAW menjawab: Bacalah, “Ya Allah mudah-mudahan engkau selalu mencurahkan shalawat kepada Muhammad, istri dan anak cucunya.” (HR. al-Bukhari [2118]).
[5] Indahnya persahabatan yang terjalin di antara mereka bahkan telah diabadikan dalam al-Qur'an yang artinya, "Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. (QS. al-Fath: 29).
[6] Jika dalam upacara bendera saja harus berdiri, tentu berdiri untuk menghormat Nabi Muhammad SAW lebih layak dilakukan sebagai ekspresi dari bentuk penghormatan. Bukankah Nabi Muhammad SAW adalah manusia teragung yang layak untuk lebih dihormati dari pada yang lain.

Ditulis oleh : Rofi'udin ~ Official

Rofiudin Anda sedang membaca postingan tentang Hujjah NU: Maulid Nabi, Membaca Shalawat, Mahallul Qiyam. Anda boleh mengcopy paste atau menyebarluaskan postingan ini, namun jangan lupa untuk meletakkan link di bawah ini sebagai sumbernya.
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين